Friday, July 27, 2012

MAKALAH HUJAN


BAB I
PENDAHULUAN

Hujan adalah peristiwa turunnya air dari langit ke bumi. Awalnya air hujan berasal dari air dari bumi seperti air laut, air sungai, air danau, air waduk, air rumpon, air sawah, air comberan, air susu, air jamban, air kolam, air ludah, dan lain sebagainya. Selain air yang berbentuk fisik, air yang menguap ke udara juga bisa berasal dari tubuh manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, serta benda-benda lain yang mengandung air. Air-air tersebut umumnya mengalami proses penguapan atau evaporasi akibat adanya bantuan panas matahari. Air yang menguap / menjadi uap melayang ke udara dan akhirnya terus bergerak menuju langit yang tinggi bersama uap-uap air yang lain. Di langit yang tinggi uap tersebut mengalami proses pemadatan atau kondensasi sehingga membentuk awan. Dengan bantuan angin awan-awan tersebut dapat bergerak kesana-kemari baik vertikal, horizontal dan diagonal.
Akibat angin atau udara yang bergerak pula awan-awah saling bertemu dan membesar menuju langit / atmosfir bumi yang suhunya rendah atau dingin dan akhirnya membentuk butiran es dan air. Karena berat dan tidak mampu ditopang angin akhirnya butiran-butiran air atau es tersebut jatuh ke permukaan bumi (proses presipitasi). Karena semakin rendah suhu udara semakin tinggi maka es atau salju yang terbentuk mencair menjadi air, namun jika suhunya sangat rendah maka akan turun tetap sebagai salju.
Tetesan hujan, yang mencapai awan setelah sebelumnya menguap dari laut, mengandung zat-zat tertentu yang bisa memberi kesuburan pada tanah yang mati. Tetesan yang "memberi kehidupan" ini disebut "tetesan tegangan permukaan". Tetesan tegangan permukaan terbentuk di bagian atas permukaan laut, yang disebut lapisan mikro oleh ahli biologi. Pada lapisan yang lebih tipis dari 1/10 mm ini, terdapat sisa senyawa organik dari polusi yang disebabkan oleh ganggang mikroskopis dan zooplankton. Dalam sisa senyawa organik ini terkandung beberapa unsur yang sangat jarang ditemukan pada air laut seperti fosfor, magnesium, kalium, dan beberapa logam berat seperti tembaga, seng, kobal, dan timah. Tetesan berisi "pupuk" ini naik ke langit dengan bantuan angin dan setelah beberapa waktu akan jatuh ke bumi sebagai tetesan hujan. Dari air hujan inilah, benih dan tumbuhan di bumi memperoleh berbagai garam logam dan unsur-unsur lain yang penting bagi pertumbuhan mereka. Seperti yang tertera dalam ayat

"Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam." (QS. Qaf: 9).

Hujan buatan adalah hujan yang dibuat oleh campur tangan manusia dengan membuat hujan dari bibit-bibit awan yang memiliki kandungan air yang cukup, memiliki kecepatan angin rendah yaitu sekitar di bawah 20 knot, serta syarat lainnya. Ujan buatan dibuat dengan menaburkan banyak garam khusus yang halus dan dicampur bibit / seeding ke awan agar mempercepat terbentuknya awan jenuh. Untuk menyemai / membentuk hujan deras, biasanya dibutuhkan garam sebanyak 3 ton yang disemai ke awan potensial selama 30 hari. Hujan buatan saja bisa gagal dibuat atau jatuh di tempat yang salah serta memakan biaya yang besar dalam pembuatannya.

BABI II
PEMBAHASAN

A.      HUJAN MENURUT AL QUR’AN
Bagaimana hujan terbentuk masih merupakan misteri besar bagi orang-orang dalam waktu yang lama. Baru setelah Radar Cuaca ditemukan, bisa didapatkan tahap-tahap pembentukan hujan. Pembentukan hujan berlangsung dalam tiga tahap. Pertama, “bahan baku” hujan naik ke udara. Lalu awan terbentuk. Akhirnya curahan hujan terlihat. Tahap-tahap ini ditetapkan dengan jelas di Al-Qur’an berabad-abad yang lalu yang memberi informasi yang tepat mengenai pembentukan hujan:
Artinya : Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira. (Surat ar-Ruum, 48)

Berdasakan ayat tersebut dijelaskan tahap-tahap terjadinya hujan yaitu:
TAHAP 1: “Dialah Allah Yang mengirimkan angin…”
Gelembung-gelembung udara yang tak terhitung yang dibentuk dengan pembuihan di lautan yang pecah terus-menerus dan menyebabkan partikel-partikel air tersembur menuju langit. Partikel-partikel ini kaya akan garam, lalu diangkut oleh angin dan bergerak ke atas di atmosfir. Di atmosfir partikel-partikel ini membentuk awan dengan mengumpulkan uap air di sekelilingnya.
TAHAP 2: “…lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal…”
Awan-awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekeliling butir-butir garam atau partikel-partikel di udara. Awan-awan itu bergantungan di udara dan terbentang di langit. Jadi, langit ditutupi dengan awan-awan.

TAHAP 3: “…lalu kau lihat air hujan keluar dari celah-celahnya.”
Ketika awan-awan kecil saling bertemu dan bergabung membentuk awan yang lebih besar, gerakan udara vertikal ke atas terjadi di dalamnya meningkat. Gerakan udara vertikal ini lebih kuat di bagian tengah dibandingkan di bagian tepinya. Gerakan udara ini menyebabkan gumpalan awan tumbuh membesar secara vertikal, sehingga menyebabkan awan saling bertindih-tindih. Membesarnya awan secara vertikal ini menyebabkan gumpalan besar awan tersebut mencapai wilayah-wilayah atmosfir yang bersuhu lebih dingin, di mana butiran-butiran air dan es mulai terbentuk dan tumbuh semakin membesar. Ketika butiran air dan es ini telah menjadi berat sehingga tak lagi mampu ditopang oleh hembusan angin vertikal, mereka mulai lepas dari awan dan jatuh ke bawah sebagai hujan air

Semua tahap pembentukan hujan telah diceritakan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Selain itu, tahap-tahap ini dijelaskan dengan urutan yang benar. Sebagaimana fenomena-fenomena alam lain di bumi, lagi-lagi Al-Qur’an-lah yang menyediakan penjelasan yang paling benar mengenai fenomena ini dan juga telah mengumumkan fakta-fakta ini kepada orang-orang pada ribuan tahun sebelum ditemukan oleh ilmu pengetahuan.
Kita harus ingat bahwa para ahli meteorologi hanya baru-baru ini saja mengetahui proses pembentukan awan hujan ini secara rinci, beserta bentuk dan fungsinya, dengan menggunakan peralatan mutakhir seperti pesawat terbang, satelit, komputer, dsb. Sungguh jelas bahwa Allah telah memberitahu kita suatu informasi yang tak mungkin dapat diketahui 1400 tahun yang lalu.
B.       DAMPAK HUJAN MENURUT AL-QUR’AN TERAHADAP PERKEMBANGAN ILMU
Dampak hujan menurut Al Qur’an terhadap perkembangan ilmu diantaranya adalah biologi, fisika, geografi, hidrologi, dan sebagainya. Ayat Al Qur’an yang berhubangan dengan ilmu biologi anara lain adalah surat al hajj ayat 5 yang berbunyi;
Artinya : …… Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.
Ayat Al Qur’an yang berhubangan dengan ilmu fisika anara lain adalah surat Ar Ra’d ayat 17 yang berbunyi;

Artinya : Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan (Q.S. Ar Ra’d ayat :17)
Ayat Al Qur’an yang berhubangan dengan ilmu geografi anara lain adalah surat Al-A'raf ayat 57 yang berbunyi;
Artinya : Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. (Al-A'raf/7: 57)
Ayat Al Qur’an yang berhubangan dengan ilmu geografi anara lain adalah surat Al-Qamar ayat 11-12 yang berbunyi;
Artinya :  11. Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. 12. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemu- lah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. (al-Qamar/54: 11-12)
Masih banyak cabang-cabang ilmu lain yang dapat dikelompokkan dalam memahami ayat kauniyah ini. Inilah suatu bukti bahwa al-Quran memang kitab yang penuh mukjizat yang selalu sejalan dengan perkembangan manusia dan perjalanan masa.
C.      DAMPAK HUJAN MENURUT AL QUR’AN TERAHADAP TEKNOLOGI
Untuk mempercepat turunnya hujan pada musim kering yang berkepanjangan, tak ada jalan lain selain melakukan campur tangan terhadap alam. Yaitu dengan mempercepat terjadinya hujan yang sudah secara luas dikenal sebagai hujan buatan. Hujan buatan merupakan bagian dari teknologi modifikasi cuaca (TMC) yang memudahkan kehidupan manusia. Selain untuk mengatasi kekeringan, hujan buatan juga digunakan untuk mengatasi kebakaran hutan atau bahkan berfungsi membersihkan udara.
Menurut Kepala UPT Hujan Buatan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Ir Samsul Bahri, Msc, hujan buatan dilakukan dengan menyemai awan melalui penggunaan bahan bersifat higroskopik atau menyerap air. Sehingga, partikel-partikel air lebih cepat terbentuk dan hujan punturun. Awan yang dijadikan sasaran dalam kegiatan hujan buatan adalah jenis awan Cumulus (Cu) yang aktif, dicirikan dengan bentuknya yang seperti bunga kol. Untuk melakukan penyemaian awan, ada beberapa metode yang lazim digunakan. Metode yang paling sering dilakukan selama ini adalah penyemaian dengan menggunakan pesawat terbang. Bubuk natrium clorida (NaCl), sejenis garam, disebarkan ke awan. Dengan harapan, awan yang mengandung garam itu akan menarik air dan kandungan air di awan menjadi tinggi. Selain dari udara penyemaian awan, juga bisa dilakukan dari darat dengan stasiun statis, yaitu Ground Base Generator (GBG). Pemanfaatan GBG untuk menyemai awan biasanya dilakukan di daerah pegunungan. Di puncak gunung dibangun menara dan di ujung menara ditempatkan bahan-bahan yang biasa digunakan untuk membuat hujan buatan. Bahan yang disemaikan ke awan yaitu bubuk natrium clrorida.
Kegiatan penyemaian ini ramah lingkungan. Bahan yang digunakan untuk penyemaian awan juga digunakan untuk kehidupan se hari-hari. Urea digunakan dalam pertanian, Sodium Klorida banyak terdapat di atmosfer sebagai hasil dinamika air laut, dan juga digunakan untuk bahan masakan. CaCl2 digunakan orang di negara lintang menengah untuk ditaburkan dijalan raya guna mencegah terbentuknya es dan salju. Dari sisi konsentrasi, satu butir bahan higroskopik berukuran 10-50 mikron mengalami pengenceran hingga sejuta kali ketika menjadi tetes hujan berukuran 2000 mikron. Hasil analisis air hujan selama beberapa kali kegiatan TMC telah membuktikan bahwa parameter kualitas air hujan maupun badan-badan air masih aman untuk digunakan dalam kehidupan se hari-hari.
BAB III
KESIMPULAN

Pembentukan hujan berlangsung dalam tiga tahap.  Tahap 1: Gelembung-gelembung udara yang tak terhitung yang dibentuk dengan pembuihan di lautan yang pecah terus-menerus dan menyebabkan partikel-partikel air tersembur menuju langit. Partikel-partikel ini kaya akan garam, lalu diangkut oleh angin dan bergerak ke atas di atmosfir. Di atmosfir partikel-partikel ini membentuk awan dengan mengumpulkan uap air di sekelilingnya. Tahap 2: Awan-awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekeliling butir-butir garam atau partikel-partikel di udara. Awan-awan itu bergantungan di udara dan terbentang di langit. Jadi, langit ditutupi dengan awan-awan. Tahap 3: Ketika awan-awan kecil saling bertemu dan bergabung membentuk awan yang lebih besar, gerakan udara vertikal ke atas terjadi di dalamnya meningkat. Gerakan udara vertikal ini lebih kuat di bagian tengah dibandingkan di bagian tepinya. Gerakan udara ini menyebabkan gumpalan awan tumbuh membesar secara vertikal, sehingga menyebabkan awan saling bertindih-tindih. Membesarnya awan secara vertikal ini menyebabkan gumpalan besar awan tersebut mencapai wilayah-wilayah atmosfir yang bersuhu lebih dingin, di mana butiran-butiran air dan es mulai terbentuk dan tumbuh semakin membesar. Ketika butiran air dan es ini telah menjadi berat sehingga tak lagi mampu ditopang oleh hembusan angin vertikal, mereka mulai lepas dari awan dan jatuh ke bawah sebagai hujan air.
Dampak hujan menurut Al Qur’an terhadap perkembangan ilmu diantaranya adalah biologi, fisika, geografi, hidrologi, dan sebagainya. Dan Teknologi yang berkaitan dengan adanya hujan ini yaitu di bentuklah hujan Buatan oleh manusia.

DAFTAR PUSTAKA
http://adiwarsito.wordpress.com/2009/10/22/hujan-menurut-al-quran/
http://www.harunyahya.com/indo/artikel/027.htm
http://www. harunyahya.com/indo/mitra/
http://www.indonesiapower.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=854%3Ateknologi-hujan-buatan&Itemid=1
http://www.pengobatan.com/keilmuan/pawang_hujan.html

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Atas Kunjungannya dan Kesediaannya untuk Berkomentar. Saya Sangat menghargai Setiap Komentar, Masukkan, Saran, dan Kritik yang sekiranya dapat Membangun Blog ini agar lebih baik Kedepannya. Berkomentarlah dengan sopan dan santun & "No Spam"..
Terima Kasih atas Kunjungannya...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Materi Belajar Online