Monday, August 6, 2012

PTK IPA - Pengaruh Tehnik Pembelajaran Kreatif dan Kemampuan Penalaran Terhadap Hasil Belajar Siswa SMP



Abstrak
Tujuan penelitian ini untuk menentukan pengaruh tehnik pembelajaran, kemampuan penalaran dan hubungan antara kedua variabel terhadap penguasaan keterampilan proses IPA. Penelitian dilakukan secara experimen pada SLTP di Tasikmalaya dengan sampel berjumlah 94 siswa yang dipilih secara acak. Hasil yang diperoleh sebagai berikut: (1) Penerapan tehnik pembelajaran kreatif divergen memberikan hasil keterampilan proses yang lebih baik dalam IPA ( CD = 28.14 ) dibandingkan dengan tehnik pembelajaran kreatif konvergen ( AK = 26.60) ( Fo = 11.67 > Ft = 3.92 ). (2) ada interaksi antara teknik pembelajaran dan kemampuan penalaran yang memberikan pengaruh yang berbeda terhadap keterampilan proses IPA (3) untuk siswa yang berpenalaran formal, tehnik pembelajaran kreatif divergen yang menghasilkan perbedaan prestasi yang tidak signifikan dibandingkan dengan aktif divergen (Fo = 2.28 CD = 29.39) dibanding dengan aktif konvergen ( AC = 24.33) (Fo = 28.76 F’ = 8.04). Kata kunci: Tehnik pembelajaran kreatif, kemampuan penalaran, dan keterampilan proses dalam IPA
 PENDAHULUAN
Faktor penting dalam penguasaan teknologi adalah sumber daya manusia yang dikembangkan melalui pendidikan. Karena itu pendidikan sebaiknya berisikan program yang diarahkan untuk menyiapkan anak didik agar mampu menyerap teknologi yang selalu berubah. Program pendidikan terarah mendidik siswa selalu siap dengan perubahan-perubahan. Untuk membina fleksibilitas ini maka perlu ditingkatkan kemampuan berpikir logis, kritis, berinisiatif, dan kreatif. Kesadaran dan skebijakan pentingnya pengembangan berpikir kreatif menjadi modal dasar untuk melakukan inovasi pada pendidikan IPA. Pengembangan kreativitas pada pendidikan IPA telah diterapkan dalam bentuk “Keterampilan Proses”, sesuai dengan definisi kreativitas oleh Torrence (1988). Conny Semiawan (1989) menyatakan bahwa pengembangan kreativitas anak didik dapat terlaksana jika dalam pembelajaran diterapkan keterampilan proses.
Mengkaji tujuan pengajaran IPA untuk SD, SLTP, dan SMU, baik pada kurikulum 1975, 1984, maupun 1994, terlihat bahwa upaya menerapkan pendekatan keterampilan proses atau mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan metode ilmiah telah dilakukan sedini mungkin, dan secara berkelanjutan, serta telah berlangsung selama dua puluh tahun. Namun lamanya waktu yang telah dilewatkan sejak pencanangan pelaksanaan pendekatan keterampilan proses, tidak menjamin tercapainya keberhasilan yang diharapkan. Hasil-hasil penelitian yang dilakukan Muhamad Nur (1993) dan Ratna Wilis Dahar (1985) menunjukkan bahwa penguasaan siswa terhadap keterampilan proses belum utuh. Penerapan pendekatan keterampilan proses yang dilaksanakan sejak kurikulum 1975, 1984, sampai 1994, belum dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa terhadap pelajaran IPA seperti diharapkan. Penerapan pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran IPA tampaknya bukan sekedar masalah teknis metodologis saja, melainkan berkaitan dengan masalah yang lebih mendasar yaitu sosial budaya dengan lebih khusus faktor psikologis anak. Karena itu perlu kiranya dilakukan inovasi dalam pembelajaran IPA untuk meningkatkan minat dan motivasi siswa terhadap IPA dengan mengembangkan tidak hanya berpikir logis dan analitis namun juga inisiatif dan kreatif.
Rumusan Masalah
Masalah penelitian dirumuskan sebagai berikut: (1) Secara keseluruhan, apakah ada perbedaan hasil belajar berupa keterampilan proses IPA antara siswa SLTP yang diajar dengan Teknik Pembelajaran Kreatif divergen dan mereka yang diajar dengan Teknik Pembelajaran Aktif konvergen?, (2) Apakah terdapat interaksi antara Teknik Pembelajaran dengan Kemampuan penalaran yang memberikan perbedaan pengaruh terhadap hasil belajar IPA siswa SLTP?, (3) Untuk siswa yang berpenalaran operasi formal, apakah hasil belajar IPA siswa yang diajar dengan Teknik Pembelajaran Aktif konvergen lebih tinggi daripada siswa yang diajar dengan Teknik Pembelajaran Kreatif divergen?, (4) Untuk siswa yang berpenalaran operasi konkrit, apakah hasil belajar IPA siswa yang diajar dengan Teknik Pembelajaran Kreatif divergen lebih tinggi daripada siswa yang diajar dengan Teknik Pembelajaran Aktif konvergen?
Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui apakah ada perbedaan hasil belajar antara siswa SLTP yang diajar dengan tehnik pembelajaran kreatif divergen dengan tehnik pembelajaran aktif konvergen. (2) untuk mengetahui apakah ada interaksi antara teknik pembelajran kreatif dan kemampuan penalaran terhadap keterampilan proses IPA ManfaatPenelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pelaksanaan pengembangan pembelajaran IPA untuk menumbuhkembangkan keterampilan proses dan dapat menjadi dasar dalam mengembangkan model-model pembelajaran yang berbasis keterampilan ilmiah
Hipotesis
Berdasarkan diskripsi teoritis, dan kerangka berpikir yang telah disajikan, maka hipotesis penelitian dirumuskan sebagai berikut: (1) secara keseluruhan hasil belajar berupa keterampilan proses IPA pada siswa yang belajar dengan teknik kreatif-divergen lebih baik daripada siswa yang belajar dengan teknik aktif-konvergen, (2) ada interaksi antara Teknik Pembelajaran Kreatif dan Kemampuan Penalaran terhadap hasil belajar siswa, berupa penguasaan keterampilan proses IPA, (3) bagi siswa berpenalaran formal, hasil belajar berupa keterampilan proses IPA pada siswa yang belajar dengan teknik aktif-konvergen lebih baik dari-pada siswa yang belajar dengan teknik kreatif-divergen, (4) bagi siswa berpenalaran konkrit, hasil belajar berupa keterampilan proses IPA pada siswa yang belajar dengan teknik kreatif-divergen lebih baik daripada siswa yang belajar dengan teknik aktif-konvergen.
METODOLOGI PENELITIAN
Populasi dari penelitian ini adalah, siswa kelas 2 SLTP Negeri 9 Tasikmalaya. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara berkelom-pok (cluster Sampling). Pertama pengacakan dilakukan terhadap sekolah tempat penelitian dilaksanakan. Pengacakan kedua dilakukan pada kelas yang digunakan untuk pelaksanaan perlakuan. Satu kelas dilakukan perlakuan berupa pengajaran IPA dengan teknik pembe-lajaran kreatif-divergen, dan satu kelas lagi pengajaran IPA dengan teknik pembelajaran aktif-konvergen.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen, yang dilaksanakan dengan menggunakan rancangan faktorial 2×2, dengan variabel-variabel bebas adalah teknik pembelajaran dan kemampuan penalaran siswa. Variabel terikat adalah hasil belajar berupa penguasaan keterampilan proses IPA.
Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data terdiri dari dua buah instrumen, yaitu (1) Tes Hasil Belajar berupa kemampuan keterampilan proses IPA. Uji validitas isi dilakukan dengan mengacu kepada Kurikulum Pendidikan Dasar Tahun 1994 bidang Studi IPA. Penghitungan koefesien reliabilitas dilakukan dengan menggunakan rumus Kuder Richardson (KR-20) dengan hasil koefesien reliabilitas 0,71, dan (2) instrumen kedua berupa tes kemampuan penalaran Formal Siswa. Instrumen ini dikembangkan oleh Tobin & Capie (1991). Instrumen ini telah diuji kembali reliabilitasnya dengan menggunakan KR-20, dan menghasilkan r = 0,48 dan digunakan untuk memilah siswa ke dalam dua kelompok yaitu kelompok siswa berkemampuan penalaran formal, dan siswa berkemampuan penalaran konkrit. Teknik analisis data yang digunakan untuk pengujian hipotesis adalah ANAVA 2-jalan yang dilanjutkan dengan uji perbandingan ganda teknik Scheffé.
Pembahasan
Hasil-hasil yang diperoleh dari penelitian ini memberikan manfaat bagi pelaksanaan pengembangan pembelajaran IPA untuk menumbuhkembangkan keterampilan proses. Ada beberapa aspek yang dibahas berkaitan dengan hasil penelitian.
Pertama, perancangan dan pengembangan pembelajaran IPA harus sampai pada tingkatan yang dapat menjamin terjadinya proses belajar mengajar yang dapat meningkatkan minat dan kemampuan siswa, sesuai dengan karakteristik siswa. Agar dapat mencapai maksud tersebut proses perancangan harus dilakukan secara berencana dan sistematis. Rancangan pembelajaran IPA yang bertujuan mengembangkan keterampilan proses siswa, harus berorientasi dan dirancang berdasarkan keterampilan berpikir ilmiah. Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam merancang pembelajaran IPA yang mengembangkan keteram-pilan proses adalah: a) mengidentifikasi sifat-sifat keterampilan proses yang akan diajarkan, b) merencanakan pembelajaran keterampilan proses, c) menyediakan media atau alat yang dibutuhkan dan d) mengintegrasikan pembelajaran keterampilan proses dengan materi IPA.
Dari keempat langkah tersebut di atas, langkah pertama adalah langkah terpenting yang sering terlupakan oleh guru. Kegiatan mengidentifikasikan sifat-sifat keterampilan proses yang akan diajarkan adalah kegiatan yang menentukan langkah selanjutnya, yang pada akhirnya menentukan hasil yang akan diperoleh.
Kegiatan mengidentifikasikan sifat-sifat keterampilan proses yang akan diajarkan, diawali dengan memilih keterampilan proses yang akan diajarkan, menentukan apa yang “dibutuhkan” untuk menguasai beberapa keterampilan proses yang akan diajarkan, kemudian melakukan analisis reflektif terhadap sifat-sifat keterampilan proses yang akan diajarkan, dan akhir kegiatan ini menentukan sifat kunci dari keterampilan proses yang akan diajarkan tersebut.
Temuan yang menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara teknik pembelajaran dan kemampuan penalaran siswa membawa implikasi bah-wa dalam pengembangkan pembelajaran IPA, faktor karateristik siswa harus menjadi pijakan pengembangan. Pembelajaran bukan hanya mentransfer konsep. Sejak lahir siswa telah berinteraksi dengan lingkungan dan alam sekitar, sehingga pada dirinya telah terbentuk berbagai persepsi tentang berbagai hal. Pembelajaran IPA harus dimulai dari persepsi siswa menuju kepada pembentukan konsep, prinsip, dan teori yang benar menurut IPA.
Sesuai dengan perkembangan penalaran dan mental manusia, maka teknik pembelajaran IPA harus beroperasi dan berjenjang. Ada tiga tahapan yang diajukan, yakni tahap fenomenologis pada usia muda, tahap analitis pada usia remaja akhir dan awal dewasa, dan ketiga tahap abstraksi pada usia dewasa.
Pembelajaran IPA sebaiknya diawali dengan penyajian fenomenologis dari gejala alam yang menimbulkan gairah rasa ingin tahu. Penyajian ini dapat melalui peragaan atau pengamatan kejadian alam seharihari. Kegiatan semacam ini dalam pendidikan ilmu pengetahuan alam sering dinamakan “discrepant events” atau “puzzlers and problems”.
Berbeda dengan penyajian fenomenologis dimana gejala fisika ditanggapi secara induktif, maka pembelajaran IPA pada tahap analitik menuntut tanggapan yang aktif, kritis, deduktif, dan analitik. Pembelajaran IPA pada tahap analitik misalnya dilaksanakan dengan praktikum-praktikum dengan media lembar kerja siswa (LKS), disamping dengan membahas soal-soal atau pemahaman-pemahaman.
Tahap ketiga dalam pembela-jaran IPA adalah tahap abstraksi yang berkaitan dengan kemampuan penalaran seseorang. Tahap ini hanya mungkin diterapkan setelah peserta didik mempunyai cukup kemampuan analitik dalam menelaah gejala alam. Dalam tahap abstraksi, orang menciptakan model untuk menerangkan gejala fisis yang dihadapinya, dan selanjutnya model ini diterjemahkan pada konsep abstrak yang diuji kebenarannya dengan suatu eksperimen yang direncanakan secara logis dan sistematis.
Kedua, peranan guru dalam pembelajaran IPA harus dikembangkan bahkan ada kebiasaan guru yang harus dirubah. Guru hendaknya mengusahakan suatu lingkungan belajar sesuai dengan perkembangan mental dan penalaran siswa. Sehubungan dengan itu guru hendaknya lebih berfungsi sebagai fasilitator belajar daripada sebagai instruktor (pengajar) atau director (pengarah) yang menentukan segalanya.
Guru harus lebih banyak memberikan tantangan daripada tekanan. Tantangan memberikan siswa kesempatan memperoleh kepercayaan terhadap kemampuan-kemampuannya untuk berpikir, menganalisa, dan bertindak. Cara yang termudah agar siswa merasa tertantang adalah dengan mengajukan pertanyaan. Melalui kegiatan bertanya siswa akan berlatih menyampaikan gagasan, dan memberikan respon yang relevan terhadap suatu masalah yang dimunculkan.
Guru lebih memperhatikan pro-ses IPA daripada produk IPA. Pembelajar IPA yang utuh adalah pembelajaran IPA yang mencakup tiga hakikat IPA, yaitu produk, proses, dan nilai (sikap). Ketiga aspek IPA itu dikembangkan dengan mempertimbangkan keseimbangan segi-segi teoritis dan praktis. Konsep, teori, dan hukum seharusnya tidak diajarkan pada siswa sebagai suatu pengeta-huan yang sudah jadi, melaikan perlu selalu diusahakan agar para siswa juga belajar bagaimana mendapat pengetahuan itu.
Guru hendaknya dapat menciptakan suasana di dalam kelas yang menunjang rasa harga diri siswa, sehingga merasa aman dan berani mengambil resiko dalam menentukan pendapat dan keputusannya.
Ketiga, sistem evaluasi pembe-lajaran IPA. Aspek terpenting yang berkaitan dengan teknik pembelajaran IPA adalah sistem evaluasi yang digunakan. Sistem evaluasi yang dilakukan guru sangat menentukan pola belajar siswa. Jika dalam evaluasi yang ditanyakan hanya hapalan, jangan mengharapkan bahwa siswa akan mempelajari di luar hapalan. Jika guru tak pernah mengevaluasi kemampuan keterampilan proses, wajar mereka enggan atau tak suka mempelajari atau melakukannya. Jika evaluasi pembelajaran IPA selalu berupa soal-soal yang mengutamakan perhitungan matematik, maka wajar mereka tertarik belajar soal-soal dan penyelesaiannya, tanpa belajar memahami konsepnya lebih dulu.
Sistem evaluasi yang ada sekarang perlu dikembangkan sesuai dengan teknik pembelajaran yang selaras dengan tujuan pendidikan IPA itu sendiri. Pengembangan pertama yang terpenting adalah bahwa evaluasi pembelajaran IPA tidak cukup hanya mengevaluasi aspek produk IPA yang berupa pemahaman ter-hadap konsep, prinsip, teori, dan hukum IPA saja. Evaluasi pem-belajaran IPA hendaknya mencakup kketiga aspek yang ada pada IPA yaitu produk, proses, dan sikap.

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Atas Kunjungannya dan Kesediaannya untuk Berkomentar. Saya Sangat menghargai Setiap Komentar, Masukkan, Saran, dan Kritik yang sekiranya dapat Membangun Blog ini agar lebih baik Kedepannya. Berkomentarlah dengan sopan dan santun & "No Spam"..
Terima Kasih atas Kunjungannya...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Materi Belajar Online